Getting started with baccarat_Live Baccarat Registration_Online gambling platform_The rules of baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Cloud top online untuk berjudi,Situs resmi mahkota,Bacca atau banker

Wussss…

The strongest bThe strongest baccarat playaccarat playarga terdThe strongest baccarat playiam. Suasana hening. Suara ketukan jarinya di keyboard berhenti.

*Kamis Mistis kembali menyapamu kali ini dengan cerita mistis, tapi sedikit berbalut komedi.  Alih-alih lari karena melihat tak kasat, sosok ini malah tetap diam di tempat demi mengejar deadline. Wah, nyalinya besar juga, ya~

Semula, semuanya masih berjalan normal. Arga masih terus memilih jadwal yang cocok. Terlambat mengisi KRS artinya ia harus mengotak-atik pilihan kelasnya agar dapat jadwal kuliah yang enak. Di saat matanya fokus menghadap laptop, terdengar suara angin berhembus pelan.

Bersamaan dengan angin yang berhembus sekali itu, ia mencium aroma melati yang sangat kuat. Ia menoleh ke arah datangnya angin, dari halaman kiri balai desa yang bersebalahan dengan parkiran dan gudang. Tidak ada bunga melati, gumamnya. Setelah mengedarkan pandangan, ia tak menemukan tanaman melati yang mungkin menguarkan bau yang wangi tadi. Ia ingat-ingat lagi, memang tidak ada tanaman itu di balai desa.

Dalam hidup, kita punya jatah untuk melakukan hal gila yang sebelumnya mungkin nggak pernah mampir di otak sama sekali. Terkadang, ada situasi-situasi unik yang bisa jadi membuat kita bertindak nekat. Mengabaikan kehadiran makhluk gaib karena ada hal lain yang lebih mendesak, misalnya. Kegilaan ini, bahkan bikin orang yang melakukannya pun ikut bertanya-tanya, “Kok berani banget aku begitu?”

Ia memang takut setengah mati dan hampir terkencing di celana. Bahkan, lehernya sudah tengang karena bulu kudung berdiri. Namun, ternyata KRS online membuatnya masih bertahan. Kalau malam itu ia tak segera menyelesaikannya, tamat sudah riwayat satu semester ke depan. Bayang-bayang gagal KRS-an dan nggak jumlah SKS semester depan yang kurang nyatanya tak kalah menakutkan.

Akan tetapi, belum ada semenit fokus memilih jadwal kuliah, Arga merasa nggak tenang. Seakan ada orang yang sedang melihatnya dari kejauhan. Dengan rasa takut bercampur penasaran, Arga kembali menoleh ke pohon asam dan….

Harap berlangganan  atau beli akses artikel ini untuk melanjutkan.

Sebelum-sebelumnya ia sudah biasa sendirian mencari jaringan internet gratis di balai desa, bahkan sampai larut malam. Hari itu, ia pun merencanakan hal yang sama.

Wussss…

Bismilahirohmanirahmin….” rapal Arga sembari memilih dua jadwal mata kuliah yang tersisa.

Sesampaianya di balai desa, Arga memarkirkan motor. Ia menuju aula terbuka dan duduk di salah satu kursi plastik yang ada. Tepat saat ia membuka laptop, suara azan berkumandang. Tanpa pikir panjang, Arga mengisi KRS online. Merasa tegang lantaran diburu waktu, ia memilih untuk fokus dengan layar laptopnya.

Selama hampir 10 menit, Arga terdiam. Tubuhnya kaku dan pikirannya kalut. Berkali-kali ia menelan ludah. Sementara itu, aroma melati justru semakin menjadi-jadi. Saat tak ada hembusan angin pun, aromanya sangat menusuk hidung.

“Kalau begini percuma udah milih jadwal kelas mana aja dari seminggu lalu. Huh….” Arga menggerutu sepanjang jalan dari rumah ke balai desa.

Jadi, cerita nyata ini dialami oleh Arga, panggilannya sehari-hari. Jauh sebelum pandemi, Arga masih disibukkan kuliah tatap muka. Setelah menjalani kegiatan perkuliahan tiap semester, ia akan pulang ke kampung halaman yang cukup terpencil. Setidaknya, butuh waktu 8 jam perjalanan dengan naik bis dari Kota Malang.

Nah, letak rumahnya yang jauh dari keramaian membuatnya harus tinggal dengan minim sinyal. Demi mendapatkan jaringan internet, tak jarang ia mengunjungi balai desa yang menyediakan akses internet gratis. Saat musim pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) online tiba, ia selalu melipir ke sana. Tak seperti biasa, hari itu Arga benar-benar lupa jadwal pengisian KRS. Jika saja teman kuliahnya nggak bertanya “Kon milih kelas opo ae?” (Kamu milih kelas apa aja?), Arga akan lupa sampai keesokan harinya.

Kali ini ia melihat dedaunan pohon asam bergoyang-goyang. Padahal, tidak ada angin yang berhembus. Sementara itu, bau melati masih wangi sekali.

Sambil terus merapal semua doa yang pernah dipelajarinya sawaktu mengaji di TPA, Arga mencoba menenangkan diri. Kalau beruntung, ia harap doa-doanya membuat si hantu pergi sebentar.

Pengisian KRS sudah dibuka sejak siang pukul 12.00 WIB. Namun, apesnya, Arga baru ingat sekitar pukul 17.00 WIB ketika menjelang malam. Sehabis mandi, ia langsung menyiapkan laptop dan memacu motor. Kalau semakin lama, ia tidak akan mendapatkan kelas. Maklum, jadwal kelas di jurusan kuliahnya memang dipilih sendiri oleh mahasiswa. Siapa paling cepat mengisi KRS dan memilih kelas, otomatis akan dapat dapat jadwal kuliah yang sesuai harapan; bukan kelas pagi atau nggak dapat kelas dosen killer.

“Nggak ada apa-apa,” kata Arga, nyaris seperti bisikan.

Nggak terbayangkan di kepala Arga bahwa malam itu ia akan menyaksikan makhluk tak kasat mata. Lebih nggak masuk akal lagi baginya adalah ketika ia memilih tetap di balai desa. Bukannya membereskan barang, lari, dan memacu motor, ia malah tetap di posisi yang sama; duduk!

Tak peduli jadwal tersebut di hari dan jam berapa, Arga cuma langsung ‘klik-klik’ aja. Yang ada di pikirannya adalah KRS selesai dan pergi secepatnya.

Sepertinya, ada orang yang mengamatiku dari jauh | Photo by Humpelfinkel on Pixabay

Klik!

“Astagfirullah…,” ucap Arga spontan.

Hantu kuntilanak | Illustration by Hipwee

Setelah memastikan tidak ada apa-apa di pohon itu, Arga merasa tenang. Meski aroma melati masih menyengat, ia terus kembali menatap layar laptop untuk menyelesaikan KRS. Arga pikir bisa bertahan sedikit lagi karena tinggal jadwal tiga mata kuliah yang perlu dipilih.

Lama-kelamaan Arga melihat sesosok perempuan, duduk di  batang pohon asam. Walau dari jarak yang cukup jauh, Arga bisa melihat sosok itu terus menatapnya. Arga yang sudah diselimuti ketakutan, semakin nggak berdaya ketika sosok itu tersenyum padanya. Sialan, batinnya.



Lanjut baca dengan login terlebih dahulu.

Tombol ‘Save’ ditekan. Proses pengisian KRS online selesai. Nggak berpikir lagi, Arga secepat kilat memasukkan laptop. Aroma melati masih tercium. Sekilas ia melihat pohon asam itu, daun-daunnya masih bergoyang pelan. Ia berbalik badan dan lari sekencang-kencangnya menuju parkiran. Motor dinyalakan, ia melaju pulang dengan perasaan takut yang tak hilang-hilang.

Angin berhembus lagi. Sama seperti sebelumnya, hanya sekali dan beraroma melati. Mulai merasakan tanda-tanda keanehan, Arga mulai ketakutan. Namun, ia tetap duduk di kursinya, tak berkutik sekali pun.

Arga yang sedari awal ingin menoleh ke satu pohon di dekat parkiran pun memberanikan diri. Tanpa beranjak sejengkal dari tempatnya, Arga menoleh dan memperhatikan pohon asam yang cukup tinggi dan rimbun. “Ngapain sih menanam pohon asam di sini?” pikir Arga kesal sekaligus takut. Seperti cerita yang beredar, pohon asam jadi salah satu ‘rumah’ yang disukai makhluk halus.